Bagi Pak Bondan masalah makanan enak bukan hal yang baru. Sebelumnya ia telah menjadi redaktur Jalan Sutra di Kompas. Sebuah artikel yang mengupas baraneka macam makanan sepanjang jalur perdangan Jalan Sutra. Beliau menjelaskan berbagai masakan dari berbagai latar belakang. Tidak hanya masalah bumbu, tetapi juga teknik, asal geografis, sejarah, nama, dan ciri khas tiap-tiap masakan tersebut. Beliau sering menjabarkan arti nama dalam sebuah masakan. Misalnya masakan yang bernama The King Bids Farewell to His Concubine yang artinya raja mengucapkan selamat tinggal kepada sang selir. Beliau menerangkan, bahwa nama tersebut konon diciptakan pada akhir masa dinasti Qing dengan cara yang sangat sulit. Kelezatan masakan tersebut membuat Raja rela melepas selirnya untuk memperoleh hidangan tersebut. Sebuah penjelasan yang menarik. Karena kita dituntut untuk berimajinasi, membayangkan sebuah imperium Qing beberapa generasi masa lampau menggunakan kostum dizamannya tengah mengusir selir untuk medapatkan sebuah hidangan yang begitu istimewa.
Hal yang tak kalah menarik, yaitu beliau kerap menghubungkan masakan satu dengan lainnya. Baik dari teknik, bahan atau bumbu. Dua masakan berbeda, dibuat di dua daerah yang terpisah jauh tetapi memiliki kesamaan-kesamaan tertentu. Secara tidak sadar seperti hendak memberitahukan bahwa kita memiliki nenek moyang yang sama dan berada dalam garis geografi yang sama.
Hal yang berbeda dengan Wisata Kuliner, Artikel Jalan Sutra tidak diangkat lewat layar kaca. Mungkin itulah yang menyebabkan Pak Bondan terbiasa mendeskripsikan berbagai masakan secara detil. Yang tujuan adalah bagaimana agar pembaca dapat ikut membayangkan dan merasakan nikmatnya makanan yang ia tulis. Misalkan masakan udang Rebus Pu Tien. Beliau menerangkan bahwa udangnya utuh, dan tampak merah segar terendam dalam kuah bening. Disajikan dalam tabung bambu dengan kuah panas. Nah lo, sudah bisa dipastikan mereka yang belum makan siang buru-buru mencari teman untuk segera melakukan aksi cari makan enak.
Saat menjadi presenter kuliner menjadi lebih mudah baginya untuk menerangkan berbagai hidangan yang ada. Karena pemirsa dapat langsung melihat bagaimana rupa dan bentuk penyajian hidangan tersebut. Tentu yang menarik tidak hanya karena hidangannya saja, tetapi bagaimana kemampuan si presenter menjelaskan berbagai masakan dengan segala pengetahuannya. Dengan gaya yang simpatik beliau berkelana ke berbagai daerah di nusantara. Dari resto berkelas sampai warung makan sederhana. Karena masalah rasa tentu tidak bisa diidentikan dengan tempat bergengsi atau bukan. Lihat saja ia memperkenalkan Laksa H Idin yang berada di daerah Bogor. Warung Laksa sederhana menghidangkan masakan tradisional dengan harga yang begitu murah 3000 rupiah, sudah termasuk satu telor rebus utuh, ya utuh tidak setengah. Beliau tak lupa mengakrabkan diri dengan memanggil Mang Idin sang pemilik warung makan. Sang kameraman merekam proses penyajian hingga terhidang di meja Pak Bondan. Beliau kemudian menerangkan hidangan dan mencicipinya, mak nyuuss begitulah komentarnya kalau ia hendak menjelaskan bahwa rasa masakan itu begitu sempurna.
Mungkin beliau adalah penikmat pencarian makan enak sejati. Dari kota besar hingga daerah terpencil, dari harga ratusan ribu hingga dua-tiga ribu rupiah saja. Dari sudut pelosok Banten, hingga daratan Tiongkok. Ia tak hanya memberi gambaran berbagai hidangan yang ada, tetapi juga menghubungkannya dengan berbagai pengetahuan lainnya, tanpa rasa gengsi tentunya.
esthi Grindcore








inspiration giver
--
"Never say enough!" Ayrakus Inc.
--
Sangre absorbida por la tierra, crecen cerezos rojos sobre ésta.
Se cae en pedazos, se pierde la esperanza.
¿Es ésto el amor...?
--
My Messenger is gazzuk@hotmail.co.uk
--
i`m Hougen in deviantART's Ginga Crew!
:iconthinkrapeplz:
:iconmastrsdggy:
Do you like my work??
--
My Messenger is gazzuk@hotmail.co.uk
Previous Page12Next Page